Perjalanan Dompet Dhuafa Sebagai Perantara Kebaikan

“If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together  (Anonim)”

Quote diatas mengingatkan saya pada kinerja salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia, dialah Dompet Dhuafa. Perjalanan 25 tahun karirnya bukanlah waktu yang sebentar. Tentu saja banyak halangan dan rintangan. Dibutuhkan sinergi yang baik antara Dompet Dhuafa dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, perusahaan/lembaga, dan masyarakat, agar bisa terus konsisten dalam menyalurkan dana zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF).

Selasa, 30 Januari 2018, bertempat di Resto Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Dompet Dhuafa melaporkan hasil kinerjanya selama tahun 2017. Dalam acara yang bertajuk “Public Exposes 2018: Laporan Kinerja Dompet Dhuafa Tahun 2017”, banyak terobosan baru yang dilakukan dompet dhuafa dalam mensejahterakan kaum dhuafa. Acara ini dibuka oleh Bapak Yudha Abadi, selaku Director of Corporate Secretary Dompet Dhuafa. Beliau memaparkan bahwa Pada tahun 2017 terdapat 25,68 juta jiwa penduduk miskin, dan baru 6,5% yang menerima manfaat dari Dompet Dhuafa atau setara dengan 1,76 juta jiwa. Artinya, masih terdapat 93,5% yang belum tersentuh dan harus dibantu. Beliau menambahkan juga bahwa sebesar 73% masyarakat tidak dapat mengakses layanan publik. Hal ini dikarenakan faktor identitas, mobilitas masyarakat yang tidak menetap, dan lain-lain. Dompet dhuafa seringkali menjadi tempat masyarakat mengadukan permasalahannya. Mulai dari masalah biaya kesehatan, penebusan ijazah, dan lain-lain. Oleh karena itu pentingnya kerjasama agar bangsa ini tidak jauh tertinggal.

WhatsApp Image 2018-02-01 at 16.42.41 (4)

Bapak Yudha Abadi (Director of Corporate Secretary Dompet Dhuafa)

Acara yang dimoderatori oleh Mariana Suci Swastika ini menampilkan 4 (empat) pembicara penting, yaitu: drg. Imam Rullyawan, MARS, selaku Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi; Bapak Iwan Ridwan, selaku Direktur Utama Dompet Dhuafa Social Enterprise; Bapak Fadil Setiawan, selaku Pendamping Program Dompet Dhuafa di Mojokerto; Bapak Mukhlis, selaku Direktur PT Pachira Group, pengusaha dan pakar Agroindustri.

Pada tahun 2017, penghimpunan dana Berdasarkan laporan BPJS Kesehatan tahun 2017, disebutkan bahwa terdapat 29 juta orang miskin dan 177 juta penerima bantuan BPJS di Indonesia. Dompet Dhuafa sendiri telah memberikan manfaatnya di bidang layanan kesehatan sebesar 1,89 juta jiwa sejak tahun 1993 hingga 2017. “Apa yang dilakukan Dompet Dhuafa masih perlu perbaikan. Karena kami ingin memberikan bantuan yang tepat sasarn dan tepat manfaat”, ujar Pak Iwan Rulyawan. Oleh karena itu, lahirlah program M3 (Mustahik Move to Muzakki).

WhatsApp Image 2018-02-01 at 16.42.42 (4)

drg. Imam Rulyawan, MARS (Direktur Dompet Dhuafa Filantropi)

Program M3 sendiri merupakan program pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat miskin. Program ini merupakan salah satu program dari Karya Masyarakat Mandiri untuk para petani, nelayan, dan pengusaha UMKM dengan cara pendampingan. Waktu pendampingan usaha adalah 1-2 tahun. Target keberhasilan program adalah kenaikan pendapatan mustahik hingga dapat menjadi muzakki atau hingga 1,5 UMK. Hasil riset terhadap 139 orang penerima manfaat program kerang hijau, sapi perah dan green horti, sebesar 100% terentas dari kemiskinan dan 28% menjadi muzakki.

Pada kesempatan itu juga, Pak Imam mengajak rekan-rekan yang hadir untuk melakukan wakaf uang, minimal 10.000/bln. Dana yang terhimpun akan diinvestasikan dalam Aset Wakaf Produktif, antara lain Sekolah, Rumah Sakit, Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Industri dan lain sebagainya. Hasil surplusnya digunakan sepenuhnya untuk membantu kaum dhuafa. Bahkan beliau juga mengisahkan bahwa ada pewakaf dari kalangan non muslim. Sungguh betapa mudahnya saat ini kita berwakaf. Tak perlu menunggu uang banyak, bahkan dengan 10 ribu per bulan saja kita sudah bisa membangun amal jariyah, insya Allah.

*Ayoo, tunggu apalagi, mumpung awal bulan, jangan lupa berwakaf ya… 🙂

Nah, pembicara kedua kali ini diisi oleh Bapak Iwan Ridwan selaku Direktur Utama Dompet Dhuafa Social Enterprise. Kata beliau, Dompet Dhuafa sendiri memiliki 2 pilar utama, yaitu Dompet Dhuafa Philanthropy dan Dompet Dhuafa Social Enterprise (DDSE). DDSE telah melakukan pengembangan dan penguatan usaha-usaha dengan berbasis Social Enterprise yang profesional menuju kemandirian usaha dan menciptakan nilai-nilai sosial dalam rangka meningkatkan pemerataan sosial, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

WhatsApp Image 2018-02-01 at 16.42.42 (2)

Bapak Iwan Ridwan (Direktur Utama DDSE)

Sejak tahun 2014, DDSE telah melahirkan 14 unit usaha, 5 Rumah Sakit, 2 Sekolah Mandiri dan Zona Madina. Pada bidang retail bisnis, telah dikembangkan unit usaha Daya Mart yaitu model bisnis retail berbasis pemberdayaan dengan konsep 100% kepemilikan diarahkan untuk kaum dhuafa. Strategi yang dikembangkan Daya Mart antara lain memperkuat permodalan dan membangun jaringan distribusi dengan warung/kios di sekitar Daya Mart. Sementara pada bidang kesehatan DDSE selama tahun 2017 mengembangkan Social Hospital Network yaitu Rumah Sakit berbasis wakaf untuk melayani kaum dhuafa. Sampai saat ini telah berdiri 5 Rumah Sakit berbasis wakaf, yaitu 1. Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu; 2. Rumah Sakit Aka Medika Sri Bawono Lampung Timur; 3. Rumah Sakit Ibu dan Anak Sayidah Jakarta Timur; 4. Rumah Sakit Mata Ahmad Wardi Serang dan 5. Rumah Sakit Lancang Kuning di Riau.

*Masya Allah, ZISWAF kamu akan berputar menjadi sesuatu yang produktif. Gimana, masih mikir-mikir lagi atau langsung action? Action dong.. semoga Allah mudahkan. Aamiin.

WhatsApp Image 2018-02-01 at 16.42.42 (6)

Pak Fadil Setiawan, Pendamping Program DD di Mojokerto

Oke, setelah pemaparan tentang DDSE, sesi selanjutnya diisi oleh Bapak Fadil Setiawan, selaku Pendamping Program Dompet Dhuafa di Mojokerto. Pada sesi ini, Pak Fadil menjelaskan ada 4 program yang didampingi oleh beliau yaitu 1. Sayur organik; 2. Lahan terbuka; 3. Pengembangan Agrowisata; dan 4. Peternakan. Semua program ini ada di Mojokerto. Bahkan sekelompok petani yang ikut dalam program ini sudah bisa menyantuni 50 orang anak yatim dan dhuafa. Dengan kata lain, para petani ini sudah berubah status menjadi Muzakki. Hal lain yang menarik dari pemaparan Pak Fadhil adalah, pengembangan agrowisata menjadi tempat belajar anak-anak sekolah dalam mendalami ilmu biologi. Ditempat ini juga terdapat klaster petik sayur organik, taman kelinci dan produk buah Bit. Jadi, buat teman-teman yang mau kesana, tiket masuknya akan ditukar dengan produk unggulan agrowisata. 

*Gimana guys,, tertarik ke Mojokerto?? Yuk lah kita expolore… 😀

WhatsApp Image 2018-02-01 at 16.42.41 (2)
Pak Mukhlis (Direktur PT Pachira Group)

At least but not least, sampailah kita pada pembicara sesi terakhir, yaitu Bapak Mukhlis. Beliau adalah Direktur PT Pachira Group, pengusaha dan pakar Agroindustri. Beliau juga tim penilai untuk proposal riset yang masuk ke Kemenperin dan Kemenristek. Karena beliau sudah expert dibidang pertanian, jadi materi yang dibawakan lebih banyak tentang bagaimana melihat potensi buah lokal agar bisa go internasional. Sesi terakhir memang sangat membius. Dikarenakan beliau memberikan contoh betapa mudahnya setiap orang menjadi pemasok ekstrak buah kepada industri intermediet. Karena selama ini kita salah memahami cara kerja industri intermediet ataupun industri inti. Kita pikir, minuman yang kita minum atau selai buah yang kita makan itu semuanya dibuat oleh satu pabrik. Ternyata tidak. Ada industri kecil yang memasok ekstrak buah untuk industri inti (produk akhir yang siap didistribusi ke konsumen). Jadi, ibu-ibu rumah tangga yang di sekitarnya ada potensi buah lokal bisa memanfaatkan peluang ini. Bukan ibu-ibu saja, siapapun yang tertarik menjalankan praktek ini bisa jadi membangun sektor pertanian dan ekonomi bangsa ini. Pada kesempatan ini juga, Pak Mukhlis mengatakan bahwa PT Pachira Group siap membantu memasarkan dan menyerap produk industri kecil yang bingung ingin memasarkan kemana produk olahannya.

*Wah, masya Allah ya sepak terjang dompet dhuafa. Semoga tetap istiqomah menjadi perantara kebaikan. Aamiin.

Sekedar info saja, buat teman-teman yang mau berzakat atau berwakaf di Dompet Dhuafa, Insya Allah pengelolaan dananya sangat jelas. Karena mereka menganut prinsip ‘3 Al’ yaitu Halal, Legal dan Masuk Akal. 

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Dompet dhuafa yang telah mengundang saya menjadi bagian dari penyebar informasi kebaikan ini. Semoga Allah merahmati kita semua, Aamiin.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 18.07.40

Pengurus Dompet Dhuafa bersama teman-teman media dan blogger

Depok, 2 Februari 2018

~Desri~

Advertisements

One thought on “Perjalanan Dompet Dhuafa Sebagai Perantara Kebaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s