Sabtu Bersama Teman Baru

Ada beberapa kejadian menarik hari ini yg sayang banget dilewatkan begitu aja. karena buatku punya hikmah tersendiri.

Hari ini aku dan 2 orang relawan melakukan survey ke rumah singgah di daerah Tebet dan Bogor. Ini pertama kali bertemu relawan yang menganggap dirinya bukan relawan, hanya ‘seorang manusia yg numpang belajar’. Belajar bersyukur. Belajar Ikhlas. Belajar empati.

Kemudian selama perjalanan dia lebih banyak bercerita. Aku lebih banyak diam, mendengar dan sesekali menyisip diantara obrolannya. Mulai dari sudut pandangnya tentang relawan, tentang pacaran, tentang agama dan tentang prinsip hidup.

Dia itu unik. Pemikirannya tentang pacaran misalnya. Dia masih menganut paham pacaran. Tapi katanya lagi, pacaran versi dia adalah pacaran yg nggak kayak anak-anak sekarang. Terus dia juga bilang kalau dia kurang sependapat dengan konsep ta’aruf. Buat dia, ta’aruf itu seperti membeli kucing dalam karung. What’s??? Aku syok. Tapi mencoba untuk cool dan calm. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa dia mungkin belum belajar lebih jauh tentang ta’aruf. Bahwa sebenarnya ta’aruf tidak melulu tentang ‘we meet blind person’, tapi bisa juga teman kita sendiri yang selentingan lewat karena pernah satu kerjaan atau urusan dengan kita, lalu dia memutuskan untuk serius menghalalkan kita. So, bisa juga kan ta’aruf seperti itu? Tapi dengan catatan, selama urusan kerjaan itu si doi tidak tebar pesona atau modus2an. Dia profesional.

Lalu kekagetan yang kedua berlanjut, dia bilang, masalah agama itu cukup pribadi masing2. Ada benarnya. Tapi ada salahnya juga menurutku. Buat dia, kita jangan ikut campur urusan keimanan orang lain. Prinsip itu benar kalau kita sudah tau orang itu berbeda keyakinan dengan kita. Tapiiii…. menurutku itu berbahaya kalau kita membiarkan urusan keimanan saudara kita. Kenapa? karena saudara seiman kita adalah tanggung jawab kita juga. Tapi kalau saudara kita itu sudah kita ingatkan dan dia tetap bandel, ya sudah, tugas kita udah selesai sebagai seorang mukmin yg mencoba untuk menyelamatkannya. *Cmiiw

Kemudian dia lebih banyak bercerita tentang kisah cintanya, tipe pria idamannya dan cara dia memaknai pasangan itu seperti apa baiknya. Apa sih pernikahan itu… Nah, itulah yg kita bahas selama melakukan perjalanan ini. Pertemuan singkat, namun memberikan aku sesuatu yang unforgetable. Pesan yang muncul di kepalaku tidak lain adalah tolonglah iman saudaramu, jangan menjudge pemikiran seseorang, coba dengarkan dulu latar belakang/motif dia mengatakan sesuatu itu krn apa, jadilah pendengar yang baik untuk seseorang yang baru kamu kenal. Agar silaturahim berikutnya lebih enjoy. Disitu nanti kita bisa berbagi ilmu atau pemahaman yang kita yakini. Conditional sih.

Menjadi pendengar yang baik untuk sesuatu yang tidak kita sepakati memang sulit. Namun tetaplah menjadi pendengar yang baik. Karena ketika kita menjadi pendengar yang baik buat dia, sesungguhnya kita sudah meraih kepercayaannya. Qodarullah. Kuatkan pendirianmu. Doakan dia, agar Allah beri dia hidayah dan dia bisa menjadi muslimah yang kaffah. Aamiin.

*Depok, 13 Mei 2017

~Desmau~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s