Mencintai dengan Cara-Nya

whatsapp-image-2016-12-26-at-13-22-41

“Jatuh cinta itu mudah, namun bertahan untuk tetap cinta itu sesuatu yang sangat spesial”.

Hmm… membaca caption diatas mengingatkanku pada kisah seseorang yang aku kenal. Sebut saja namanya Kiko. Kiko yang sudah menjalani biduk pernikahan selama 4 tahun ini mengalami ujian yang cukup berat, menurutku. Dari pengamatanku selama ini, sakinah dan mawaddah sudah tak bersisa. Satu-satunya harapan untuk bisa tersambung kembali dengan pasangannya hanyalah rasa ‘Rahmah’. Rahmah dalam bahasa sederhananya adalah menerima segala kekurangan pasangan dan tetap memberi kasih sayang terbaik, tanpa mengharap pengembalian dari rasa sayang itu. Namun apalah artinya rahmah, jika yang berjuang untuk bersama hanyalah Kiko seorang. Sedangkan pasangannya sudah tak ingin bersama lagi. Cukup berat memang untuk bersatu jika sudah timpang begini. Itulah kenapa ‘staying in love is very special’.

Kiko yang aku kenal memang sosok yang keras kepala, emosian dan kurang bijaksana. Oleh karena sesuatu hal, dia berbuat salah. Kesalahan yang fatal. Pasangan manapun juga akan menolak untuk bersama lagi bila melihat tingkahnya itu. Namun Allah selalu punya rencana untuk setiap kejadian didunia ini. Kiko akhirnya mendapat ganjaran dari apa yang telah ia perbuat. Ia menyesal. Ia terpuruk. Dan akhirnya ia menyadari semua kesalahan yang pernah ia perbuat dan meminta maaf dengan pasangannya. Namun maaf tinggallah maaf. Rasa sakit yang diterima oleh pasangannya lebih besar dari rasa penerimaannya.

Begitukah ujian Allah untuk sebuah kata ‘Rahmah’ ??? Mungkin mudah bagi kita untuk mengucapkannya saat suasana hati sedang baik, saat semua berjalan sesuai dengan rencana. Namun bagaimana ketika pasangan hidup ‘tergelincir’ atas izin Allah? Akankah rasa ‘Rahmah’ itu masih tersisa di dada? Masihkah kita menyisakan ruang maaf dihati ini? Sungguh, dalam proses mencintai pasangan, dari awal pertemuan lalu menikah dan punya anak, jangan pernah putus meminta (baca: berdo’a) untuk dimampukan mencintainya sesuai dengan aturan Allah, tidak berlebih dan tidak pula kurang. Bila dalam perjalanannya penuh tangis dan luka, minta ampunlah kepada Allah, barangkali hasrat mencintai kita diluar koridor-Nya.

Buatku, kisah Kiko ini sangat menginspirasi sekali. Terinspirasi bagaimana sih? Terinspirasi untuk berhati-hati dalam menaruh harapan pada pasangan. Lebih berhati-hati dalam memberi cinta. Karena bagaimanapun, pasangan kita itu adalah makhluk ciptaan Allah. Ia lemah. Tak mampu memberikan yang terbaik. Allah sangat cemburu bila kita berlebihan dalam mencintai pasangan kita. Terlebih bila kita menganggap dia adalah sumber rezeki rumah tangga. Ini sudah termasuk menganggap ada ‘tuhan lain’ dalam hidup kita.

Sekarang Kiko sudah berubah. Meski itu perlahan. Aku menghargainya. Sholatnya sudah jalan, bahkan ia puasa sunnah senin-kamis. Ia juga menyibukkan diri dengan bercocok tanam. Alhamdulillah. Namun yang aku sedihkan adalah, hubungannya dengan pasangannya masih belum membaik. Kukatakan kepadanya bahwa masalah hati itu wilayahnya Allah. Manusia hanya bisa berdoa sepanjang waktu. Anggaplah kegalauan yang ia alami saat ini sebagai penggugur dosa atas kesalahan-kesalahan sebelumnya. Bukankah do’a mampu menembus pintu langit?

Semoga aku, kiko dan pasangannya, serta pembaca blog ini, diberi taufik dan hidayah oleh Allah SWT. Agar mampu mencintai makhluk-Nya sesuai dengan aturan-Nya. Aamiin Allahumma Aamiin.

Depok, 27 Desember 2016

~Desmau~

*terima kasih Kiko untuk kisahnya, semoga Allah beri jalan keluar untuk masalahmu. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s