Refleksi untuk relawan

Relawan yang aku ingat dulu itu adalah mereka yang rela melakukan apa saja tanpa mengharapkan imbalan apapun, termasuk berharap diucapkan terima kasih, berharap dapat makan gratis, berharap dikenal banyak orang, berharap fotonya ada dalam kamera/dokumentasi, berharap ada yg mengerti betapa dirinya sudah bekerja keras, dsb. Namun sekarang makin sedikit yang seperti itu a.k.a benar-benar relawan. Termasuk diri ini yang masih banyak celanya. Hufft. Malu aku malu. Pada pohon beringin, yang teduhnya memberi sejuk pada insan, yang dahannya menjadi pijakan burung-burung. Namun jasanya dilupakan begitu saja. Dan ia terus tumbuh mengokoh dan merindang. Sampai waktu yang menebas keberadaannya.

Harusnya seperti itulah relawan. Terus bergerak dan berkarya. Menolong dan melupakan apa dan siapa yang pernah ditolong. Biar langit yang menjadi saksi, bahwa sang relawan pernah menebar kebaikan di bumi.

Semoga esok dan seterusnya, kita bisa menjadi relawan ideal seperti gambaranku itu. Aamiin.

Selamat hari relawan sedunia (H-3). See u on the top 🙂

Depok, 28/11/2016

Desmau 🙂

Dibawah langit malam, desau angin dan basah hujan

Advertisements