Yang Mendadak Itu, Seru!

14650099_1487709671255764_861122933871857260_n

Bener nggak sih jadi relawan itu sering nggak sempet mandi?  Muka kucel and dekil? 

Jawabannya adalah IYA. hehehe..

Itu tuh yang terjadi waktu pertama kali saya turun jadi relawan tanggap bencana. Kejadiannya sekitar 3 bulan yang lalu pada saat bencana longsor dan banjir bandang menerjang salah satu desa di Anyer, Provinsi Banten. Saya melakukan aksi bersama relawan komunitas Pecinta Anak Yatim dan Dhuafa Indonesia Tercinta (PAYnDoIT).

Cerita bermula pada hari Sabtu pagi (30/07/2016), dimana saya bersama empat orang relawan PAY berniat untuk bersilaturrahim ke rumah salah satu relawan yang baru saja melahirkan anak pertamanya didaerah Serpong sekaligus menghadiri wisuda teman yang tempatnya tidak jauh dari situ. Karena rumah kami berlainan arah, akhirnya kami memutuskan untuk janjian di Stasiun Tanah Abang. Nah, pada saat itulah seorang teman menginisisasi untuk terjun ke Anyer membantu korban bencana longsor. Inisiatif itu muncul tatkala salah seorang relawan PAY yang tinggal di Anyer mengirimkan info tentang parahnya kondisi disana.

14570481_1333818669984412_5696905331338359081_n

rumah penduduk yang diterjang banjir

14650282_1333818299984449_8441743949629789206_n

rumah penduduk yang rusak akibat banjir

Alhasil, setelah kami berembuk dengan beberapa relawan lain via grup whatsapp, kami sepakat untuk pergi ke Anyer setelah acara wisuda selesai. Keberangkatan hari itu bertujuan untuk survey awal pemetaan kebutuhan korban banjir. Karena serba mendadak, saya nggak pake pulang ke rumah dan tidak membawa perlengkapan pribadi apapun selain tas mungil yang isinya dompet, air minum, dan snack ringan. Karena memang tujuan hari itu mau pergi nongki-nongki canciii 😀

Singkat cerita, dengan dua mobil relawan kami berangkat pada Sabtu malam menuju lokasi bencana di Anyer. Sampai disana tepat pada saat warga setempat mau melaksanakan sholat subuh. Alhamdulillah masih ada mesjid yang berdiri kokoh di lokasi bencana. Usai sholat subuh, kami briefing untuk pembagian tugas. Saya dan tiga orang relawan (fifi, alnola dan taju) bertugas belanja ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan dapur darurat. Sementara sisanya bertugas melakukan aksi dongeng dan games.

Selain membeli kebutuhan untuk dapur darurat seperti beras, lauk pauk dan sayur mayur, kami juga membeli beberapa barang keperluan rumah tangga, seperti wajan, panci, beras, sarden, minyak goreng, kecap manis, garam, bihun, bawang merah dan bawang putih, buku tulis dan pembalut wanita. Barang-barang tersebut sengaja kami beli setelah kami mendatangi beberapa rumah yang rusak namun masih bisa ditempati. Mereka mengatakan bahwa dapur rumahnya jebol dan perlengkapan masaknya hanyut dibawa banjir.

14852984_1333818829984396_8718268983051653962_o

14882249_1333818589984420_2028667713165454231_o

Salah satu rumah tangga yang menerima bantuan dari PAY

Setelah kami memberikan kebutuhan untuk dapur darurat, acara dilanjutkan dengan makan siang. Sebenarnya kami tidak mengharapkan untuk di jamu oleh warga setempat. Karena memang niat kami kesana untuk membantu. Namun, Qodarullah, ibu-ibunya malah senang dengan kedatangan kami dan malah dibuatkan makan siang ala kadarnya. Disitu kami merasa takjub dengan warga disana. Musibah tidak membuat mereka patah semangat. Saya bingung. Mereka yang terkena musibah, malah mereka yang senang dengan kedatangan kami. Jadi bisa saya simpulkan bahwa menjadi relawan itu bukan kita yang membuat mereka bahagia, tapi mereka yang bikin kita bahagia. Aneh, kan? 

Ada juga kejadian waktu saya numpang buang air kecil di salah satu rumah warga yang selamat. Saya terharuuuu banget. Si empunya rumah bilang gini, “Neng, sering-sering kesini ya. Jangan cuma pas ada bencana aja baru main kesini. Rumah ibu terbuka buat Eneng dan teman-teman yang lain. Ibu senang lihat anak muda yang suka menolong orang lain. Mudah-mudahan urusannya dilancarkan ya Neng”.

“Aaamiiiin.. makasih Bu untuk do’anya”, jawabku lagi.

Tuh, enakkan? Diterima dengan baik sama warganya, dijamu makan siang, dido’akan pulak. Masya Allah, nikmat Allah mana lagi yang mau didustakan 🙂

Pengalaman aksi kerelawanan ke Anyer merupakan pengalaman pertama saya turun ke daerah bencana. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Selesai aksi disana, kami pulang pada pukul 9 malam. Dan baru sampai di Jakarta pada hari senin tepat pukul 1 pagi. Dan itu artinya, kami semua nggak ada yang mandi cuy.. Hahaha. Seharian cuma mandi keringat doang 😀

Kalau ditanya bagaimana rasanya jadi relawan? Hmm… berjuta rasanya. Bagaikan orang sedang jatuh cinta #eeaaaa… Gimana nggak kayak orang jatuh cinta, semua rasa bisa berkumpul jadi satu. Pernah jatuh cinta, kan? Pasti mengalami perasaan senang, sedih, takut, dan khawatir. Senang, karena bisa melihat senyum merekah di wajah mereka. Sedih, kalau mendengar kisah hidup mereka yang sangat memprihatinkan. Takut, kalau acara tidak berjalan sebagaimana mestinya. Khawatir, kalau mereka kecewa dengan apa yang kita persembahkan tidak sesuai harapan mereka.

Sebenarnya untuk menjadi relawan tidak harus bergabung dengan satu komunitas. Setiap kita bisa melakukan aksi sendiri. Misalnya memberi makan bapak/ibu penyapu jalan, membersihkan mukena mushola di komplek rumahnya masing-masing, merapikan sendal jama’ah mesjid, dan lain sebagainya. Karena arti kata relawan itu sendiri adalah melakukan suatu kebaikan tanpa perintah atau paksaan orang lain. Pada saat saya mengikuti Orientasi Relawan di Sekolah Relawan, Bang Gaw juga menambahkan definisi relawan, yaitu melakukan suatu kebaikan sebelum kebaikan itu dilakukan oleh orang lain.

Nah, yang paling penting dalam melakukan aksi kerelawanan itu adalah niat/motivasi kita. Rasulullah pernah bersabda bahwa segala sesuatu itu diawali dengan niat. Dalam buku Lapis-Lapis Keberkahan, Ustadz Salim A Fillah mengatakan bahwa niat itu utuh dan suci. Niat itu luhur dan murni. Sebab yang pertama dilihat oleh Allah memang isi dada para hamba-Nya”.

Jadi sudah jelas kiranya bagi sesiapa yang ingin menjadi relawan, poin pertama yang harus diperhatikan adalah niat. Kemudian cara melakukannya haruslah santun dan penuh kasih sayang. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita agar dimampukan dalam melakukan aksi kebaikan dan mengharap ridho-Nya. Aamiin Yaa Robbal’Aalamiin.

 

Depok, 28 Oktober 2016

Ummi Desmau 🙂

#Relawan #Aksirelawan #Caramenjadirelawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s