Hijrah, Siapa Takut!

Kita seringkali khawatir saat ingin memutuskan berhijrah atau berubah menjadi lebih baik. Padahal, asalkan kita bersama dengan orang-orang baik, kekhawatiran kita itu tidak ada apa-apanya. Kita khawatir atau takut karena kita masih sering berada di lingkungan orang-orang yang belum ‘berniat’ hijrah. Sehingga ada kecanggungan dalam diri kita bila perubahan tersebut disaksikan oleh orang lain. Oleh karena itu, penyakit hati seperti itu harus segera di obati.

Pernah dengar lagu Opick yang judulnya Tombo Ati?

Nah, lirik lagu itu poin pentingnya adalah…

  1. Baca Al Qur’an dan maknanya
  2. Sholat malam dirikanlah
  3. Berkumpullah dengan orang sholeh
  4. Perbanyaklah berpuasa
  5. Zikir malam perpanjanglah

Udah jelas kan? Berkumpul dengan orang sholeh itu dapat mengobati ketakutan, kekhawatiran dan kegalauan.

Dalam sebuah kajian remaja di AQL (Ar Rahman Qur’anic Learning) Center, Ust. Dery Sulaiman pernah menyampaikan bahwa untuk meningkatkan keimanan, kita harus sering berbicara, membahas dan melibatkan kebesaran Allah dalam setiap aktivitas kita.

Contoh:

(bukan) akhirnya kita berjumpa, (tetapi) kita dijumpakan oleh Allah.

(bukan) akhirnya kita berpisah, (tetapi) kita dipisahkan oleh Allah.

(bukan) aku pintar, (tetapi) aku di pintarkan oleh Allah.

(bukan) aku sukses, (tetapi) aku di sukseskan oleh Allah, dst.

Cara membedakan orang beriman dan tidak beriman adalah dari cara bicaranya. Apakah setiap pembicaraannya membawa kita mengingat Allah atau tidak. Semakin sering kita membahas tentang kebesaran Allah, semakin meningkat kadar keimanan kita. Begitupun sebaliknya, semakin jarang kita membahas tentang kebesaran Allah, semakin turun kadar keimanan kita. Wallahu’alam.

Perlu teman-teman ketahui bahwa kondisi hati kita (keimanan) dipengaruhi oleh Mata, Telinga, Mulut dan Pikiran kita.

  1. Mata –> apa yang sering dilihatnya, apakah sesuatu yang Allah sukai atau Allah benci. Contoh: melihat ayat-ayat Al Qur’an (yang disukai Allah), melihat kemaksiatan (dibenci Allah).
  2. Telinga –> apa yang sering didengarnya, apakah sesuatu yang Allah sukai atau Allah benci. Contoh: mendengarkan tausiyah (yang disukai Allah), mendengarkan musik-musik yang membuat kita lupa sama akhirat (dibenci Allah).
  3. Mulur –> apa yang sering diucapkannya, apakah sesuatu yang Allah sukai atau Allah benci. Contoh:  membaca Al Qur’an (yang disukai Allah), meng-ghibah (dibenci Allah).
  4. Pikiran –> apa yang sering dipikirkannya, apakah sesuatu yang Allah sukai atau Allah benci. Contoh: mengingat nikmat-nikmat Allah dan mensyukurinya (yang disukai Allah), mengingat lawan jenis sampai mabuk kepayang #eeaaa.. hahaha (ini tidak disukai Allah)

Hati-hati juga terhadap perkara yang diulang-ulang. Apakah perkara itu kita ulang-ulang melihatnya, mendengarnya, membicarakannya  atau memikirkannya? Karena perkara yang di ulang-ulang dapat menumbuhkan keyakinan meskipun itu perkara yang buruk. Kalau perkara yang baik, oh jelas itu bagus sekali. Ulang-ulanglah membahas kebesaran Allah, agar semakin besar keyakinan kita kepada Allah.

Semakin besar kecintaan kita kepada makhluk, semakin besar pula kekecewaan kita. Orang yang mencintai Allah, otomatis mencintai makhluk. Sedangkan orang yang mencintai makhluk belum tentu mencintai Allah.  

Kalau kita ingin tahu siapa Tuhan kita ketika kita sholat, maka perhatikanlah apa yang kita pikirkan saat sujud. Apakah kita mengingat urusan duniawi (cucian belum diangkat, cicilan motor belum dibayar, belum ada yang melamar [wkwkwk], anak sekolah belum dijemput, si dia ngajak ketemuan #eeaa, dll) ataukah mengingat kebesaran Allah? Mari kita renungkan sejenak. Kita koreksi diri kita masing-masing (mikir mode on).

Orang yang baik di mata Allah adalah orang yang merasa dirinya hina, tidak tahu apa-apa, dan merasa lemah sehingga hanya Allah yang mampu menolongnya. Ingat, pesan ini “Sebaik-baiknya kita, lebih baik orang lain. Seburuk-buruknya orang lain, lebih buruk kita”.

At least but not least, ketika kita baca Al quran disana ada berita ancaman dan kabar gembira. Nah, sebenarnya berita ancaman itu ditujukan untuk kita sendiri (sebagai pengingat), namun berita gembira ditujukan untuk orang lain (sebagai motivasi berbuat baik).

Semakin sering kita menyebarkan sunnah, maka bid’ah akan hilang. Jangan gampang membid’ahkan aktivitas orang lain. Tapi marilah kita hidupkan sunnah Rasul. Allahu Akbar!

Sekian hasil resume kajian Q-Gen dengan penambahan beberapa penjelasan. Semoga bisa diambil ilmunya dan bermanfaat untuk teman-teman semua. Aamiiin.

 

Depok, 10 Oktober 2016

Desmau 🙂

#hijrah #obathati #keimanan #cintaAllah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s