Kajian Majelis Jejak Nabi

Kajian Majelis Jejan Nabi

Di Mesjid Baitul Ihsan

Minggu, 26 April 2015

 

Saksikanlah Aku Seorang Muslim (Part 2).

Oleh Ust. Musthafa Umar, LC

 

Assalamu’alaykum wr.wb

 

Kita menyebut diri kita seorang muslim bukan untuk bangga2an, tetapi untuk menjalankan sebuah misi.

Sebagai seorang muslim, ada 2 kata kunci utamanya, “aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah”

“Fasyhadu..” Apa itu makna bersaksi?

Kita sudah bersaksi, belum? Betulkah sudah bersaksi?

Kalau ada orang mau masuk islam, kita minta dia bersaksi.

Pada hari jum’at yang lalu, saya membimbing seorang wanita dari Nias untuk bersyahadat. Hari ini juga dijadwalkan ada seorang suku asli di pedalaman Riau yang akan bersaksi.

“Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadurrasulullah”

Kalimat yang sering kita ucapakan ini, benarkah kita sudah bersaksi? Belum tentu.

Kenapa belum? Apa itu bersaksi?

Kata kunci untuk memahami kata bersaksi adalah ILMU.

Contoh: Suatu hari kita sedang berdiri ditepi jalan raya. Kita melihat ada mobil dari arah sebelah kanan kita, dan sepeda motor dari arah sebelah kiri. Tiba-tiba terjadi tabrakan. Kasus ini pun sampai ke pengadilan. Hakim ingin memutuskan hukuman kepada siapa yang bersalah. Tetapi hakim tidak punya bukti. Si pengendara motor mengatakan bahwa pengendara mobil yang salah. Sementara itu pengendara mobil mengatakan bahwa si pengendara motor yang salah. Akhirnya  dihadirkanlah saksi untuk mengungkap kebenaran itu. Kita yang ada pada saat kejadian berlangsung dan melihat dengan jelas proses terjadinya, maka kita bisa bersaksi. Lalu kita menjelaskan kronologi terjadinya kecelakaan tersebut. Bahwa yang salah adalah si pengendara motor yang mengambil jalur si pengendara mobil.

Menceritakan kembali apa yg telah diketahui itu namanya bersaksi. Jika kita berada didalam suatu ruangan, lalu mendengar ada suara tabrakan, bisakah kita dikatakan saksi? Tidak. kenapa? Karena kita tidak tau kronologi kejadian tersebut.

Jadi orang yang bisa bersaksi adalah orang yang mepunyai ilmu. Ilmu tentang apa yang terjadi.

Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadurrasulullah”

Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Betulkah kita sudah mengetahui ilmu tentang mengenal Allah? Sifat2 allah? Tau tentang kandungan makna sifat2 allah? Jika sudah, maka betul lah kita sudah bersaksi. Namun jika belum, sudah layakkah kita menyebut bahwa kita sudah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah?

“Dan demikianlah kami menjadikan kamu sebagai umat pertengahan, supaya kamu menjadi saksi-saksi ke atas manusia, dan Nabi Muhammad itu menjadi saksi ke atasmu”

Kita ini akan diminta persaksian dihadapan Allah, surat Al Baqarah 147. “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.

Sudah kah kita bersaksi dengan makna sebenarnya?

Bagaimana ilmu tentang sifat Allah? Apakah kita sudah punya? (mari kita jawab sendiri)

Lihatlah kisah Bilal bin Rabah, Bilal benar2 bersaksi bahwa “saya seorang muslim” yang ditunjukkannya lewat kata “ahad.. ahad.. ahad”. Dia benar2 bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah.

Salah satu sifat Allah adalah wujud. Apa itu wujud? Wujud artinya ada. Apakah kita ada? Ya, ada. Apakah Allah itu ada? Ya, Ada. Apa bedanya kita dengan Allah? Kita ini “ada” kekurangannya, sedangkan Allah “ada” kesempurnaannya. Mengapa kita katakan bahwa kita ini “ada kekurangan”? sebab dahulu kita ini tidak ada. Kemudian menjadi ada. Dan sebentar lagi tidak ada. Sementara Allah itu ada, tetap ada, selama-lamanya ada. “Huwal awaalu, huwal akhiiru”.

Oleh karena itu, Minta tolonglah pada yang terus menerus “ada”.

Akankah orang yang betul2 bersaksi telah mengenal Allah akan bergantung pada yang selain Allah? Tidak.  Krn selain Allah, keberadaanya terbatas. Orang yang minta tolong kepada selain Allah ini berarti dia tidak bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah.

“Iyyaakana’budu wa iyyaakanasta’in” orang yang paham kalimat ini sungguh gagah perkasa.

Perhatikan orang Palestina, jumlah mereka sedikit. Tetapi mereka tidak ada ketakutan sedikitpun ketika menghadapi musuh. Mereka sulit untuk dilkalahkan/ ditundukkan.  Apa sebab? Karena mereka benar2 bersaksi bahwa mereka seorang muslim. Mereka yakin akan pertolongan Allah.

Perhatikan surat Ali ‘Imran ayat 81-85 : menerangkan ttg Allah dan mengambil perjanjian para Nabi.

Yang mengambil janji adalah Allah, yang berjanji adalah manusia. Jadi Allah telah mengambil persaksian dari para Nabi untuk bersaksi bahwa Nabi Muhammad membenarkan apa yang telah diberikan kepada semua para Nabi. Krn semua para nabi beragama islam. Agama nabi musa itu agama islam, semua agama para nabi adalah agama islam.

Jadi persaksian itu kaitannya dengan agama islam. Dapatkah seseorang itu disebut dengan bersaksi dengan makna yg sebenarnya sbg seorang muslim, kalau dia tidak beragama islam?

Allah tidak membatasi agama islam ini dari Nabi Muhammad, tetapi Islam ini dari nabi Adam, manusia pertama. Kenapa Rasulullah diutus? Krn banyak umat yang menyimpang, lalu Rasul diutus supaya memperbaiki keadaan.

Surat Al Hajj : 78 –> Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Nanti Allah akan bertanya kepada kita, “betulkah dia ini (sebut saja pemimpin dunia yg dzolim), calon penghuni surga / neraka? Maka kita akan bersaksi bahwa “dia calon penghuni neraka ya Allah, krn dia telah menyiksa saudara kami di palestina”.

Penghuni neraka, apakah mereka bisa bersaksi? Tidak. karena mereka adalah pihak yang tertuduh. Tidak layak memberikan persaksian.

Contoh: seorang non muslim ingin masuk islam. Ketika ditanya “kenapa mau masuk islam? Lalu dia menjawab, “karena saya mau menikah dengan orang islam. Saya diminta bapaknya untuk masuk islam dulu sebelum menikah dengan anaknya”.

Apakah orang ini sudah bersaksi? Belum. Karena dia masuk islam tidak dengan pengetahuan (ilmu), tetapi karena hawa nafsunya.

Sudah layakkah kita disebut seorang muslim? Menjadi muslim itu tidak cukup dengan hanya bersyahadat saja, tetapi juga melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang terdapat didalam surat Al Hajj ayat 78 “…maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”.

Muslim itu sendiri memiliki arti “berserah diri”.

Lalu, Apa makna berserah diri?

(jawaban jama’ah) Tunduk dan patuh.

(jawaban ustad) Bukan. Tunduk dan patuh itu disebut taat. Disitu ada larangan, kita tak buat.

(jawaban jama’ah lagi) Tawakal.

(jawaban ustad) Bukan. Itu menyerahkan urusan kepada Allah setelah kita berdo’a dan ikhtiar. Misal, kita sakit, kita pergi ke dokter, dan kita pun berdo’a. Kita serahkanlah urusan sakit dan sehat kita pada Allah.

Saya kasih contoh:

Kalau kami orang tua, sangat cinta dengan anak. Anak saya ini bertubuh kecil, kurus, lemah. Kalau di sekolah selalu di bully, diambil uangnya. Apa sebab? Sebab dia kecil, kurus, lemah. Setiap dia nak pergi ke sekolah dia selalu galau, takut. Apa sebab? Sebab keadaannya. Tapi sejak dia mempercayakan dirinya kepada saya kalau nak pergi ke sekolah. Kira2 anak ini akan di ganggu teman2nya tak? Tidak. Kenapa? Karena dia sudah menyerahkan keselamatannya kepada saya, sbg orangtuanya. Maka bagaimana anak yg sudah menyerahkan keselamatan dirinya kepada saya, adakah dia gelisah? Takut?

(Jawaban jama’ah) Tidak.

[tanya ustadz] Kenapa dia tak takut lagi? Karena dia sudah merasa tenang, sebab sudah menyerahkan urusan hidupnya kepada orang yg dia anggap mampu melindunginya.

Kalau kita sudah mnyerahkan diri kita kepada Allah, misalkan, Miskin, kita serahkanlah urusan miskin itu kepada Allah. Lemah. Kita serahkan urusan lemah itu kepada Allah. Apa lagi masalah lain? Cari Pasangan hidup. Serahkanlah pada Allah.

Kalau sudah kita serahkan semua urusan kita kepada Allah, adakah lagi yang tertinggal pada diri kita ini? Tidak ada.

Sebab apa? Diri ini 100% dijaga, dipelihara oleh Allah. Maka orang yang sudah menyerahkan dirinya 100% kepada Allah, orang ini biasanya tenang. Karena dia tau kalau Allah bersama dia.

Perhatikan kisah Nabi Ibrahim yang dicampakkan kedalam api. Lalu Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah memohon pertolongan, bahwa cukuplah Allah sebagai pelindung.

Lalu Allah perintahkan kepada api itu untuk menjadi dingin. Nabi Ibrahim pun selamat. Sebab apa? Sebab Nabi Ibrahim sudah menyerahkan urusan api itu kepada Allah.

Jadi makna berserah diri itu adalah Tak Ada Lagi Yang Tertinggal pada diri ini. kalau masih ada yang tertinggal, masih ada rasa khawatir, rasa takut, rasa galau, artinya kita belum berserah diri kepada Allah.

Dalam berserah diri jangan tunggu orang lain dulu, jangan tunggu umur 60 tahun dulu, jangan tunggu dapat kerja dulu, dan jangan tunggu hal2 yang lain, tapiiii,,, berserah diri sejak awal kita punya keinginan.

Apa yang kita peroleh jika kita berserah diri kepada Allah?

Perhatikan surat Fussilat ayat 30-33.

(30) Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Kalau malaikat yang menyampaikan berita gembira itu, pasti atau tidak beritanya itu? Pasti.

Kalau koran hari ini, beritanya pasti atau tidak? Tidak. yang pasti itu adalah tanggal terbitnya dan harganya. Isinya ??? ikut pesanan.. hehe

Kalau mau tau berita yang betul2 benar, bacalah Al Qur’an, bukan koraann.

(33) Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Ketika seseorang mengatakan “saya seorang muslim” kemudian dia beriman. Dan membuktikan keimanannya dengan amal sholeh, maka ketika dia mengatakan kpd orang lain “saksikanlah aku seorang muslim”. Maka bila sampai ke tahap ini, ayat sebelumnya mengatakan “tidak ada ketakutan didalam hati mereka dan mereka tidak bersedih hati, mereka mendapatkan perlindungan dan dimasukkan kedalam surga”.

Bukan kah itu tujuan hidup kita?

Sebagai penutup, bersegerahlah kita menjadi seorang “muslim”. Muslim sebenarnya. Karena didalam Al Qur’an ada orang yang terlambat menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Siapa dia?

dialah Fir’aun.

Semoga apa yang disampaikan ini bermanfaat. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s