Kajian Majelis Jejak Nabi

Saksikanlah bahwa Aku Seorang Muslim (Part 1)

Oleh Salim A. Fillah

 

Assalamu’alaykum wr.wb.

 

Para salafus sholeh mengatakan jika engkau ditanya apakah engkau beriman? hendaklah engkau diam, sebab jika engkau mengatakan tidak, tentu saja itu adalah ukuran sementara ketika engkau mengatakan iya maka bisa jadi engkau telah berdusta, sebab engkau belum memenuhi hak-hak keimanan yang Allah bebankan kepAdamu. Demikan pula, seorang salafus sholeh pernah mengatakan kepada sahabat2nya, apakah kalian orang-orang yg sholat? maka sahabat2nya menjawab bagaimana engkau bisa bertanya demikian padahal kita baru saja sholat bersama-sama didalam shaf pertama di mesjid. Maka alim ini mengatakan, apakah kalian orang-orang yang tidak berkeluh kesah lagi kikir ketika ditimpa keburukan tidak berkeluh kesah, dan ketika ditimpa kebaikan tidak menjadi orang-orang yg pelit terhdp sesama. Apakah kalian orang-orang yg mendawamkan sholat kalian yg menyambungkan sholat yg satu dgn sholat lainnya, sehingga antara salam dan takbir di sholat berikutnya terjaga kekhusyu’an, tercegah dari keji dan mungkar. Apakah kalian orang-orang yg membenarkan hari pembalasan? Apakah kalian orang-orang yang kemudian takut, senantiasa berkeluh-keluh didalam hati terhadap azab dari Rabb kalian? Apakah kalian orang-orang yg senantiasa menjaga kemaluan kalian kecuali terhadap istri2 kalian? Dan apakah kalian orang-orang yg senantiasa menjaga janji? Dan apakah kalian orang-orang yg senantiasa menegakkan persaksian? Maka terdiamlah para sahabatnya. “Engkau telah bertanya sesuatu yang meragukan mereka”. Benar, sebab aku bertanya, apakah kalian orang-orang yg sholat? Maka aku telah membaca firman Allah didalam Surat al Ma’arij ayat 19-35,

 

“Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah  dan apabila mendapat kebaikan ia menjadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat. Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta dan orang yang mempercayai hari pembalasan dan orang-orang yang takut terhadap Tuhannya. Sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada yang merasa aman dari kedatangannya dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barang siapa mencari diluar itu (seperti zina, homoseks, dan lesbian), merekalah orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itu dimuliakan di dalam SURGA”.

 

Kata para sahabatnya,” bukankah dirimu sedang bertanya, “apakah kalian termasuk para ahli surga?” “Maka bagaimana kami akan menjawab?”. Sebab diakhir ayat itu menyatakan, mereka itu (golongan yang disebut didalam surat Al Ma’arij) adalah orang-orang yg dimuliakan didalam surga.

 

Ada hal-hal didalam diri yg sangat berat konsekuensinya, seperti iman, seperti sholat. Sehingga orang-orang terdahulu ketakutan apabila ditanya, apakah engkau beriman? Apakah engkau orang islam? Sebab mereka pewaris para nabi, yg para nabi demikian tawadhu’ kepada Allah SWT.

 

Perhatikan bagaimana kisah Nabi Yusuf AS, ketika ia mengatakan, “sesudah perjalanan yg sangat agung didalam hidupku, melalui lika-liku kehidupan yang sangat indah, yang Allah menyebut ceritanya adalah sebaik-baik kisah didalam alqur’an. Maka puncak dari cita-cita Nabi Yusuf adalah “Ya Allah, kumohon matikan aku sebagai seorang muslim. Dan jadikan aku, meskipun aku tak pantas, agar termasuk kedalam golongan orang-orang yang sholeh (Surat Yusuf ayat 101)”.

 

Perhatikan Kisah Nabi Sulaiman yang berdo’a “Robbi auzi`ni an asyquro ni’matakallati an`amta allaya wa `ala walidayya wa an a’mala sholihan tardhohu wa ad khilni birohmatika fi ibadikas sholihin“ (An Naml; 19) yang artinya : Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk selalu mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua ibu bapakku dan mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhoi, dan masukkanlah aku dengan rahmatMu kedalam golongan hamba-hambaMu yang Sholeh”. Sebab tanpa rahmatMu aku bukan termasuk orang-orang yang sholeh.

 

Begitulah kisah orang-orang yang sangat mulia, yang sangat tawadhu’ dihadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

 

Ketika kta mengatakan “Kami telah beriman”. Allah mengatakan “Jangan katakan kami telah beriman , tetapi katakanlah kami telah berislam”.

 

Ada satu identitas yg Allah perintahkan kepada kita utk menampakkannya, menyampaikannya kepada seluruh umat didunia, maka saksikanlah oleh kalian bahwasanya kami adalah orang-orang muslim. Islam adalah identitas yg sangat agung, yang kita banggakan.

 

Ada 4 kesadaran yang harus kita ketahui sebagai muslim, yaitu:

 

  1. Kesadaran identitas

Allah yg memberi nama kita sebagai muslim. Jadi identitas muslim bukan manusia yg memberikan namanya, tetapi Allah.

 

Sebab kita memohon kepada Allah “Ya Allah, tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yg engkau beri nikmat”. Kisah orang-orang yg diberi nikmat terbentang didalam Al Qur’an mulai dari Nabi Adam AS s/d Nabi Muhammad SAW, yang kesemuanya adalah gambaran identitas sebagai seorang muslim. Kisah bahwa menjadi seorang muslim adalah seseorang yang jika pun gagal, adalah mereka yang mampu memaknai kegagalannya, sebab mereka yg sebenar gagal adalah yang gagal memaknai keberhasilannya, bahwa keberhasilan itu berasal dari Allah SWT. Dan contoh tersebut terdapat di dalam Al Qur’an dimana Allah mengkontraskan sejak awal, kisah Nabi Adam dengan iblis. kisah Nabi Musa dengan fir’aun.

 

Kesadaran identitas sebagai muslim dimulai sejak Allah menciptakan Adam lalu Allah memerintahkannya sebagai khalifah di muka bumi.

 

  1. Kesadaran kompetisi

Menjadi muslim adl kesadaran kompetisi, sebab Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian, menciptakan bumi dan segala yg ada diatasnya utk menjadi ladang Musabaqoh bagi umat manusia. Untuk menguji  siapa diantara mereka, manusia itu, siapa yg paling baik akhlaknya. Hidup ini Musabaqoh. Hendaklah orang-orang berlomba-lomba untuk kebaikan, karenia dunia ini tempat kita menanam kebaikan, dan akhirat adalah tempat kita memanen hasilnya. Kesadaran kita sebagai seorang muslim didalam kompetisi ini adalah kita telah mendaftar disebuah perlombaan, dimana Allah sebagai panitia dan menjadi jurinya. Mendaftarnya dalam bentuk “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadurrasulullaah”. mereka yg tidak mendaftar, tidak berhak mencapai garis finish dan mendapat hadiahnya. Ada kisah seorang yang ikut berlomba,namun tidak mendaftar. Yaitu kisah ibu theresa. Sosok yang banyak berbuat kebaikan hingga akhir hayatnya, namun ia belum terdaftar sebagai muslim.

 

  1. Sinergi

Kesadran sinergi, seorang muslim dengan keimanannya, mereka bersaudara. Bahkan yg sudah mati pun adalah saudara kita yang kita selalu mendo’akannya. Karena terhubung dengan iman, terhubung dgn cinta. Persaudaraan itu betapa luasnya, bukan hanya bisa bertatap muka, tetapi bahkan berbeda rupa, dipisahkan jarak. Sebab cinta yg tersambung oleh iman, membuat kita bisa meraih manisnya hidup. Mencinta krn Allah, membenci krn Allah. Cinta kita kepada sesama muslim,membuat kita mencapai kedudukan di sisi Allah SWT, yg tidak dpt dicapai oleh amal2 pribadi kita. Nabi SAW bersabda “engkau akan bersama orang-orang yang engkau cintai”

 

  1. Misi

Sebab menjadi seorang muslim dicurahi Allah SWT cahaya yg sangat agung, iman, sebab tidak beriman salah seorang kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Ada sebuah kisah, seorang teman yang sedang studi di Jepang. Tetangga di apartemennya sedang berlibur selama 10 hari. Setiap kali pengantar koran mengantarkan koran ke kamarnya, ia mengambil dan meyimpannya untuk nanti diberikan ketika tetangganya itu pulang. Ketika tetangganya itu pulang, ia berikan koran yg sudah tersusun rapi itu kepada tetangganya. Lalu si tetangga itu bertanya “anda peduli amat sama koran saya?” lalu ia menjawab “Krn kalau ada koran berserakan didepn pintu anda, org akan tau kalau tempat tinggal anda kosong. Saya khawatir  ada orang-orang yag berniat jahat” Bukan hanya merapikan koran2 itu, tetapi teman saya ini juga menyapu bagian2 yang perlu disapu. Selain itu, istrinya juga sering membuat makanan indonesia dan menempatkannya pada rantang besar lalu diberikan kepada tetangga2nya sambil berkata “silahkan dicicipi, mohon maaf kalau tidak suka, krn ini makanan dr indonesia.”  Lalu org jepang ini heran dengan kebaikan teman saya ini dan bertanya, “Siapa yg mengajarkan anda berbuat seperti ini?” lalu dijawab oleh teman saya “seorang yang ingin saya kenalkan kepada anda. Dia adalah Muhammad SAW”. Singkat cerita, pada akhir studi teman saya ini ada sekitar 5 atau 6 keluarga yg bersyahadat. Orang-orang yg dibinanya ini menjadi penggiat didalam dakwah. Itulah kesadaran misi sebagai muslim yaitu memperkenalkan Allah dan Rasul-Nya.

Depok, 27 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s